Perdana, Perjalanan Investigasi dan Penyaluran Donasi Di Jakarta dan Sumedang

,

Bermodal bismillah dan niat lillah, 4 sosok pria berjenggot ini akhirnya meluncur ke Jakarta pada hari Senin malam 26 Januari 2015, rencanannya sih berangkatnya abis sholat isya’ tet, tapi ya molor juga sampe jam 20.30 WIB. Berbekal mobil dan sopir sewaan, karena kami orang desa yang belum paham Jakarta, ya jadinya nyewa sopir sekalian, berangkat menuju Jakarta melalui jalur Boyolali-Semarang, tapi sebelumnya mampir dulu dirumahnya Pak Idris ketua SM yang saat itu masih kurang sehat tapi memaksa untuk ikut dengan kami, “Yo ketua wajib melu no bos, apapun rintangannya, hehehe…” tangkas Gus Rohim salah satu Team SM asal Nguter, Sukoharjo yang khas dengan guyonan hangatnya. Begitu juga Gus Rohim, sepekan sebelum berangkat ke Jakarta, beliau juga harus terjun bebas di jalan raya saat ingin menyalib sebuat bus (pembalap cuy.. hehe), sedikit terpincang akhirnya Gus Rohim ikut juga dengan alasan tidak mau ketinggalan informasi.. Mantap Gus.. ^,^

Target awal kami adalah menuju Jakarta untuk menjenguk Dik Dian yang mengalami kecelekaan saat ingin kembali ke Pesantren tempat beliau belajar. Taqdir Allah berkata lain, saat Bus yang di tumpangi Dian dan Ayahnya kehilangan kendali dan masuk kedalam parit di sekitaran Jalan Tol Pegan Brebes. Pada kecelekaan ini, Dian harus kehilangan ayahnya karena meninggal disebabkan benturan keras saat masuk parit. Dian sendiri mengalami retak di rahangnya dan dibawa ke RS. Plumbon Cirebon. Saat ini Dian hanya memiliki seorang kakak perempuan, 3 bulan sebelum ayahnya meninggal, ibu Dian dipanggil Allah terlebih dahulu dikarenakan sakit.

Setelah berputar-putar tak tentu arah di wilayah Pancoran Barat. Akhirnya Team SM dijemput oleh paman Dian di depan sebuah Mall di dekat rumah Dian. “Hehehehe…orang desa masuk kota, maklum mas”, kembali Gus Rohim menghangatkan suasana. Setelah Blusukan ke lorong-lorong kecil, tibalah kami berempat di rumah paman Dian dan langsung disambut dengan segelas teh hangat serta brownis dan sekotak nasi ayam penyet.. nyaaammm… eits tapi nanti dulu.

Setelah mengobrol banyak dengan keluarga Dian, Pak Idris selaku ketua dan jubir kami (hehehe) membuka maksud kedatangan kami ke rumah Dian, selain menjenguk juga ingin menyampaikan amanah dari para donatur untuk biaya perawatan dan beasiswa Dian kedepannya. Senyuman hangat pak Idris dan paman Dian pun diabadikan serentak dengan blitz jepretan kamera “pinjeman” oleh mas Ridho, Kru SM yang paling muda. Setelah membersihkan hidangan yang disuguhkan keluarga Dian, kami berempat pun pamit pulang untuk melanjutkan perjalanan kami, eS eM Pe (Siap Makan Pulang), muehehe…

Kali ini kami berencana singgah di tempat salah seorang donatur kami di wilayah Pancoran, tidak jauh dari rumah Dian. Tiba kami di lokasi, tuan rumah tanpa “konfirmasi” langsung menyiapkan 5 mangkok Mie Ayam Khas Wonogiri, usut punya usut, ternyata donatur SM kali ini masih ada kaitan keluarga dengan Mas Anto, salah satu Kru SM asli wong Sukoharjo yang paling disiplin dan tepat waktu. Berangkat jam 20.00 WIB, sampe basecamp jam 19.30WIB. Rapat jam 17.00, sampe basecamp jam 16.30. perlu ditiru… T,T

Perjalanan selanjutnya menuju Bekasi untuk mencari penginapan, dan akhirnya pilihan tepat kami menginap di sebuah ruangan takmir masjid sekitar Bekasi. Setelah semalam istirahat, lagi-lagi jam karet, hehe.. rencana melanjutkan perjalanan ke Sumedang jam 03.00 pagi, akhirnya molor 15 menit dari waktu yang direncanakan diakibatkan antrian kamar mandi yang cukup puanjaaang…hehehe

Rest Area, Pom Bensin di sekitaran jalan Tol di Wilayah Bandung adalah tempat yang kami pilih untuk melaksanakan sholat Shubuh. Brrr… “Ternyata Bandung dingin juga ya pak, kayak di Karanganyar itu”, cetus polos mas Ridho, logat jawa yang bercampur logat batak. Ya, Mas Ridho asli medan tapi sekarang menetap di solo. Setelah melaksanakan sholat kami pun meluncur ke Sumedang untuk menuju rumah Ridhwan (11 th, 5 SD) untuk mencari data tentang keluarganya yang hampir semua lumpuh, Ridhwan harus merawat 3 anggota keluarganya termasuk ayahnya sehingga Ridhwan terpaksa menjadi tulang punggung keluarganya.

Perjalanan menuju rumah Ridhwan harus menumpuh banyak rintangan. Untuk daerah Sumedang sendiri pak sopir sama sekali masih buta. Dan harus beberapa kali bertanya ke penduduk setempat lokasi rumah Ridhwan. Naik turun bukit, persawahan, dan hutan, jalanan yang lumayan rusak, tibalah kami dirumah sederhana Ridhwan. Tak lama kami tiba ternyata Ridhwan sudah berangkat ke sekolahnya yang berjarak sekitar 1 KM dari rumah dengan berjalan kaki. Suasana rumah saat itu lengang tak berpenghuni, dan kamipun ditemui oleh pak RT setempat. Sementara ayah dan kedua kakak Ridhwan sedang dibawa ke RS Sumedang untuk di Rawat sejak hari Jum’at.

Setelah berbincang banyak dengan pak RT terkait kondisi Ridhwan dan keluarganya yang lumpuh, kami pun pamit undur diri untuk bertemu Ridhwan di sekolah tempat Ridhwan belajar dan menitipkan bingkisan serta beberapa donasi buat keperluan Ridhwan dan keluarga. Saat kami temui di sekolah, guru yang mendampingi kami saat itu mengatakan bahwa Ridhwan adalah anak yang ulet dan rajin, serta memiliki IQ yang bagus. Terbukti Ridhwan kerap sekali mendapatkan peringkat 3 besar di kelasnya. Tidak lama kami bertemu Ridhwan di sekolahnya, dan tak lupa kami memesankan kepada Ridhwan untuk tetap semangat meraih cita-cita dan tidak malas untuk mengerjakan sholat 5 waktu.

Setelah perjalanan yang cukup panjang bagi kami, akhirnya kami harus kembali ke Surakarta tempat dimana kami beraktivitas. Rabu malam tepat pukul 22.00 WIB kami tiba di basecamp beroleh-olehkan sekarangjang tahu Sumedang untuk buah tangan anak dan istri dirumah, cieee..

Semoga apa yang kami kerjakan 2 hari itu bernilai pahala dan pemberat amal kami di akhirat. Dan sebagai alasan kami dihadapan Allah ta’ala bahwa kami sudah menjalankan perintah Allah dan RasulNya, orang Islam itu seperti satu tubuh, apabila ada yang merasa sakit, maka yang lainnya akan merasa sakit juga. [SM/id]

???????????????????????????????
Sesaat sebelum berangkat, didepan rumah Pak Idris, Sambi
???????????????????????????????
Gus Rohim dan Pak Idris, setelah sarapan pagi.. perut kenyang, senyum mengembang
???????????????????????????????
Mobil pengangkut susu terbalik di jalur Pantura
???????????????????????????????
Patung Pancoran, Jakarta
???????????????????????????????
Saat tiba di rumah Dik Dian, Pancoran Barat
???????????????????????????????
Team SM bersama keluarga Dian???????????????????????????????
???????????????????????????????
Pamitan sebelum berangkat ke Sumedang, Bekasi
???????????????????????????????
Mentari pagi di Sumedang
???????????????????????????????
Pak Idris bertanya alamat rumah Ridhwan
???????????????????????????????
Suasana Perdesaan tempat Ridhwan tinggal
???????????????????????????????
Jalan menuju rumah Ridhwan
???????????????????????????????
Tiba di lokasi rumah Ridhwan
???????????????????????????????
Rumah Ridhwan dari depan
???????????????????????????????
Suasana dalam rumah Ridhwan
???????????????????????????????
Dapur Rumah Ridhwan
???????????????????????????????
Suasana rumah Ridhwan
???????????????????????????????
Penyerahan Donasi untuk Ridhwan lewat pak RT
???????????????????????????????
Beranjak pulang, menuju sekolah Ridhwan
???????????????????????????????
Ridhwan saat ditemui di sekolahnya
???????????????????????????????
Ridhwan saat di motivasi kru SM
???????????????????????????????
Saat tiba dirumah sakit tempat keluarga Ridhwan dirawat

???????????????????????????????

 

Pasangan Pengajar Al-Qur’an di Lombok Butuh Uluran Tangan Kita

Lombok –solidaritasmuslim.com– Gempa yang mengguncang NTB beberapa waktu yang lalu...

Solidaritas Muslim Salurkan Hewan Qurban Kepelosok Daerah rawan Pemurtadan

Surakarta -solidaritasmuslim.com- Jum’at (24/8)  di hari tasyrik ke-2 Idul Adha...

Leave your comment