Tidak ingin Tenar

Tidak Ingin Tenar

Pada umumnya ketenaran sangat disukai manusia, bahkan tidak jarang manusia bersusah payah untuk sengaja bisa menjadi tenar dikalangan manusia yang lain walau ia harus mengorbankan harta yang melimpah, atau apapun bentuknya tak terkecuali agamanya.

Ketenaran memang akan menjadikan seseorang menjadi diperhatikan orang lain. Ia menjadi sosok penting dikalangan orang banyak. Baginya ketenaran akan menjadikannya lebih mulia dan terhormat dihadapan manusia. Dan masing-masing jenis ketenaran memiliki ruangan tersendiri dibidangnya masing-masing dihati para pengagumnya. Penyanyi yang tenar akan menjadi pusat perhatian para pencinta musik dan lagu, pemain sepakbola yang tenar dengan prestasinya akan dielu-elukan oleh para pengagumnya, begitu pula dalam bidang politik, ekonomi, dan bahkan dalam hal keagamaan.

Tenar bisa dalam hal yang positif tapi bisa juga dalam hal yang negative, artinya bisa dalam hal kebaikan dan bisa pula dalam hal keburukan. Namun bagi para pengagumnya hal itu tidaklah penting, bahkan mereka merasa bahwa kekagumannya dan siapa yang dikaguminya adalah sesuatu yang baik.

Tapi tahukah saudara, bahwa sesungguhnya ketenaran adalah sesuatu sifat yang merusak. Ia adalah sifat tercela yang harus dihindari oleh setiap orang mukmin, sebab sejatinya ia merupakan sifat yang akan menhantarkannya kepada kebinasaan dirinya.

Syekh Ibnu Qudamah al-maqdisi, seorang ulama besar bermadzhab Hanbali yang hidup ditahun 651-689 H, didalam kitab Minhajul-qashidin beliau menempatkan “ketenaran” dalam deretan hal-hal yang memperdayakan para ahli ilmu (baca :ulama) seperti halnya riya, hasad, sombong.

Yaa, memang keinginan untuk tenar menghinggapi banyak kalangan tak terkecuali para ulama. Padahal hubbusy-syuhroh (cinta ketenaran) adalah pangkal yang menggerogoti keikhlasan dalam beramal. Jika seorang ulama sudah cinta dengan ketenaran dan dengan sengaja untuk tenar dan dielu-elukan para pendengarnya, maka tentunya sudah tidak banyak diharapkan keberkahan dari apa yang dia sampaikan, sebab perkataannya sudah tercampuri riya yang jauh dari keikhlasan. Sebab kesengajaannya untuk tenar sama artinya bahwa ia menginginkan apa yang dikerjakannya mendapat pujian manusia, yang lambat laut akan menghantarkannya kepada ketenaran seiring dengan semakin banyaknya yang mengenal dan menyanjungnya.

Seorang ulama Tabi’ien Salamah bin Dinar, atau dikenal dengan Abu Hazim pernah menyampaikan, “Rahasiakanlah amal-amalmu hanya ALLAH dan engkau saja yang mengetahuinya, sebagaimana engkau merahasiakan keburukan-keburukanmu”.

ALLAH juga mencintai orang-orang yang bertaqwa dan tersembunyi tidak kesohor dikalangan manusia. Didalam sebuah hadits shahih, Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda (yang artinya) :
“Sesungguhnya ALLAH mencintai orang-orang yang baik, yang bertaqwa dan tersembunyi, yaitu orang-orang yang dikala ia tidak hadir maka manusia tidak merasa kehilangan, dan tatkala ia hadir maka ia bukan orang yang diundang dan bukan pula orang yang dikenal ,hati-hati mereka adalah lentera-lentera hidayah yang keluar dari setiap fitnah kegelapan” (lihat at-targhib wa Tarhib 3/44).

Lihatlah bagaimana ALLAH mencintai orang-orang yang baik yang bertaqwa tapi tidak dikenal dikalangan manusia, ia hanya beramal untuk ALLAH dan tidak peduli adakah dari manusia yang memujinya ataupun tidak. Orang seperti ini hanya muncul dari orang-orang yang selalu mengikhlaskan amalnya dan merahasiakan amal shalihnya. Ia bahkan tidak ingin manusia mengetahui amal yang telah dilakukannya, baik amal yang sederhana ataupun amal yang besar dimata manusia.

Abdullah bin Mubarak, seorang ulama mujahid sautu kali bertempur adu duel disalah satu medan perang. Ia maju untuk berduel dan menutup mukanya dengan kain sehingga ia tidak dikenal siapakah gerangan. Iapun berhasil merobohkan dan membunuh musuhnya, sedang kaum muslimin tidak mengetahui siapakah mujahid yang telah menaikkan moral pasukan mujahidin ini yang telah tampil disaat-saat yang menentukan. Namun diantara seorang prajurit muslimin ada yang membuntuti beliau, sehingga tatkala Abdullah bin Mubarak membuka kainnya disuatu ketika, lelaki ini mengetahuinya. Dalam kesempatan ini saja Abdullah masih berpesan dengan tegas, ”Janganlah engkau ceritakan,.. dan rahasiakanlah apa yang engkau lihat selama aku masih hidup”.

Kejadian seperti ini bukanlah satu-satunya kejadian besar yang beliau rahasiakan, dan begitu pula kisah-kisah serupa banyak kita temukan dari kalangan para salafush-shalih. Mereka berpenampilan sederhana bahkan tidak dihiraukan manusia, tetapi jika dia memohon kepada ALLAH memohon sesuatu, maka ALLAH mengabulkannya. Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda (yang artinya) : “Betapa banyak orang yang kusut masai rambutnya, berdebu tubuhnya, bertambal-tambalan pakaiannya, (namun) jika dia bersumpah kepada ALLAH memohonnya, maka ALLAH pun mengabulkannya. Dan salah satu dari mereka adalah al-Barra bin Malik” (shahih al-Jami ash-shaghir 4573)

Itulah manusia-manusia yang hati mereka bercahaya dengan petunjuk menerangi manusia lain disekelilingnya. Mereka hanya mengharapkan pahala dari sisi ALLAH semata dan ketenaran sama sekali tidak mereka hajatkan. Baginya amalan besar sekalipun masih saja khawatir kalau saja amalannya tidak diterima ALLAH, lalu untuk apa dibanggakan dihadapan manusia kalau saja belum yakin amalannya diterima,… dan itulah sifat mukmin yang sesungguhnya. Sedangkan sifat orang munafiq, maka dia merasa aman dari adzab ALLAH dan merasa bahwa amalnya sudahlah mencukupi.

Nah, masih adakah perasaan di hati kita untuk selalu ingin dipuji manusia dan mencari ketenaran?… amat berat memang untuk meraihnya, namun bagi hati yang selalu khusyu’ kepada ALLAH hal itu tidak terlalu sulit,.. mohonlah kepada ALLAH karunia agung ini, sebab Dia memberikan karunia-Nya kepada orang yang dikehendaki-Nya.

Wallahu a’lam. [Islamical-Ghuraba]

Janda Muallaf Akhirnya Menghirup Udara Bebas, Alhamdulillah

Jogjakarta –solidaritasmuslim.com – Setelah tim Solidaritas Muslim menunggu kurang lebih...

Leave your comment