Home / Artikel Islami / Orangtua Berselisih, Siapa yang Harus Ditaati?

Orangtua Berselisih, Siapa yang Harus Ditaati?

orangtua-berselisih-siapa-yang-harus-ditaati-2
Orangtua Berselisih, Siapa yang Harus Ditaati?

Dalam rumah tangga, pasti akan selalu ada masalah. Terutama masalah yang hadir dari orangtua yaitu suami dan istri. Meski keduanya memiliki perasaan yang sama, yakni rasa cinta, tetapi perbedaan seringkali melupakan rasa cinta itu. Mereka akan berselisih jika terjadi perbedaan di antara keduanya.

Jika sudah terjadi seperti itu, maka anaklah yang terkena dampaknya. Sang anak yang seharusnya mematuhi orangtuanya, kini harus ditimpakan suatu pilihan yang membingungkan. Yakni siapa yang harus ia taati, ibu atau ayah?

“Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah ﷺ, lalu berkata, ‘Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk saya layani dengan sebaik-baiknya?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Ia bertanya lagi, ‘Lalu, siapakah?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang itu sekali lagi bertanya, ‘Kemudian siapakah?’ Beliau menjawab lagi, ‘Ibumu.’ Orang tadi bertanya pula, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ayahmu’,” (HR. Bukhari dan Muslim).

Apa saja yang ditanggung seorang ayah bisa dirasakan oleh anak. Ia melihat ayahnya lelah dalam bekerja. Namun, seorang anak tidak bisa melihat apa yang dirasakan oleh seorang ibu ketika ia mengandung selama sembilan bulan, tidak bisa merasakan sakitnya melahirkan, dan tidak bisa melihat ibunya bergadang sepanjang malam sedangkan ia menangis karena sakit atau penyakit. Tidak teringat tentang sesuatu dari ibunya ketika ia membersihkan kotoran atau menggendongnya siang dan malam. Apa maksud dari kelebihan antara ibu dan ayah? Apakah dalam ketaatan dan menjalankan perintah atau dalam hal berbuat baik menemani mereka?

Imam Ahmad berkata, “Ketaatan untuk ayah dan berbakti untuk ibu. Taat kepada kedua orangtua wajib. Taat dan melaksanakan perintah ayah didahulukan karena ia sebagai pemimpin dan ia tempat kembalinya nasab. Akan tetapi, itu tidak mengurangi penghormatan kepada ibu. Berbakti kepada ibu, lebih utama tetapi tidak mengurangi hak ayah dalam hal penghormatan dan perbuatan baik.”

DR. Musthofa Siba’i berkata, “Ibu yang kuat adalah ibu yang menunjukkan simpati kepada anak kecil. Ayah yang kuat adalah yang mampu memecahkan permasalahan. Dengan rahmat Allah, ini semua ada pada mereka berdua.”

“Datang seorang Badui kepada Rasulullah ﷺ, ia berkata, ‘Ayahku ingin mengambil hartaku.’ Rasulullah bersabda, ‘Hartamu untuk ayahmu. Sesungguhnya, sebaik-baik apa yang kamu makan adalah dari apa yang kamu cari, dan sesungguhya harta anak-anakmu adalah dari apa yang kamu cari. Maka, makanlah dengan bahagia’,” (HR. Ahmad).

Referensi: Bermalam di Surga/Karya: Dr. Hasan Syam Basya/Penerbit: Gema Insani Jakarta 2015

About solimus

Check Also

Surat-surat Yang Biasa Dibaca Rasul Ketika Sholat

Solidaritasmuslim.com – Pernahkah terpikir kenapa ketika setiap kali rekaat pertama shalat shubuh imam shalat selalu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *