Friday , November 17 2017
Home / Artikel Islami / Mendandani Muslimah, Mendandani Generasi

Mendandani Muslimah, Mendandani Generasi

Mendandani Muslimah, Mendandani Generasi
Mendandani Muslimah, Mendandani Generasi

Dunia maya sedang heboh dengan mahmud challenge alias mamah muda yang berfoto memakai pakaian daster di satu sisi, dan berdandan/make up di sisi lain. Tulisan khasnya “jangan remehkan emak-emak berdaster, karena kalau mereka sudah dandan, kelar hidup lo.”

Tantangan ini direspons luas oleh ibu-ibu muda. Mereka rame-rame memposting fotonya. Mungkin niatnya sekadar lucu-lucuan. Namun di sana terkandung sebuah pesan, bahwa perempuan berdaster itu jangan disepelekan. Meskipun kelihatannya mereka tidak asyik, tetapi kaum ibu itu akan eksis jika sudah ber-make up.

Ghirah Jilbaber

Di sisi lain, kaum muslimah menunjukkan ghirah keislaman luar biasa. Hal ini tampak dari kontribusi para ibu pada moment aksi bela Islam 212 lalu. Respons mengagumkan ditunjukkan kaum hijaber atau jilbaber ini di berbagai daerah. Mereka begitu heroik menyambut para peserta aksi.

Paling terkesan adalah menyiapkan logistik bagi para mujahid yang berjalan kaki. Bukan hanya makanan, juga pakaian, jas hujan, sendal, hingga baju dalaman. Memang begitulah, kaum ibu sangat memperhatikan kebutuhan kecil-kecil, karena terbiasa mengurus rumah dengan segala tetek bengeknya. Perangkat yang tak terpikirkan akan dibutuhkan oleh kaum bapak, disediakan berlimpah oleh kaum ibu.

Sementara itu, di antara peserta aksi, sederatan artis berhijab juga ikut menjadi saksi sejarah. Mereka hadir sebagai bentuk kesadaran dan tanggung jawab membela agamanya. Ya, banyak artis yang saat ini telah meninggalkan dandanan menornya dan mengubah diri menjadi hijaber. Eksistensi dan kebahagiaan mereka tak lagi terfokus pada polesan make up, tetapi menghiasi diri dengan pemikiran Islami.

Jadi, jangan remehkan muslimah yang berjilbab, karena kalau mereka sudah membela agamanya, apapun dikorbankan. Tak hitung-hitungan materi, tak peduli kepada siapa berbagi, selama sesama kaum muslimin, akan dibela dan dibantu sekuat tenaga.

Eksistensi Umshol

Di antara kaum muslimah, banyak pula ummu-ummu muda yang masih memiliki anak-anak balita. Bukan jadi penghalang untuk beraktivitas, para ummu sholehah (umshol) ini malah menjadikan anak sebagai ladang dakwah. Mereka sibuk menyiapkan generasi penerus harapan umat.

Pakaian mereka sederhana, jilbab dan khimar sesuai syariah. Tidak ada dandanan. Karena, dandan bukan lagi menjadi prioritas. Eksistensi mereka tidak diukur dengan polesan make up. Kepribadian islami, yakni pola pikir dan pola sikap islamilah yang ditonjolkan. Ngaji dan dakwah, menyampaikan kebenaran dengan pemikiran Islam, adalah aktivitas utama mereka. Tujuannya sangat mulia, mencerdaskan kaum perempuan.

Jangan remehkan para umshol berjilbab ini. Kalau sudah berdiskusi, akan keluarlah level kecerdasannya. Para muslimah ini bukan perempuan bodoh yang dicuci otak dengan doktrin asal-asalan tentang agama. Mereka membangun sendiri kesadaran dan ketakwaannya melalui proses pemikiran panjang dan mendalam. Maka jangan tanya soal pengorbanan bagi agama mereka.

“Dandani” Pemahaman

Apakah para umshol ini tidak tertarik dengan dandanan? Iya, kalau dandan itu dilakukan di luar rumah untuk menarik perhatian. Apalagi diposting di jagad maya, dipertontonkan kepada seantero dunia. Aktivitas pengajian menggiring mereka pada sebuah pemahaman: haramnya tabaruj alias mempertontonkan kecantikan demi menarik perhatian.

Tapi, jangan dikira para umshol ini tidak piawai berdandan. Namun, pemahaman pula yang menggiring mereka untuk memiliki rambu-rambu: cukup berhias di depan suaminya. Di rumahnya. Di kamarnya. Bukan diobral.

Para umshol ini, tidak lagi fokus pada dandanan muka dan bodi. Mereka lebih sibuk “mendandani” (baca: memperbaiki) pola pikirnya. Terus memperbaiki pemahamannya. Para umshol ini sadar, keberhasilan dalam “mendandani” muslimah agar sholehah, menjadi kunci keberhasilan untuk melahirkan generasi penerus terbaik.

Maka, kontribusi para umshol saat ini sangat dibutuhkan. Untuk membangun keluarga-keluarga tangguh, pencetak generasi. Mereka adalah ibu generasi alias ummahatul ghad. Tanggungjawabnya sungguh besar: melahirkan, mendidik dan menyiapkan generasi-generasi harapan umat.

Taruhan Keluarga

Saat ini, betapa kebobrokan sudah melanda berbagai lapisan generasi. Bukan hanya para remaja yang butuh “didandani” pola pikir dan perilakunya, rupanya para mahmud-mahmud inipun harus “didandani” agar kelak berubah menjadi umshol-umshol. Inilah peran penting para umshol.

Para umshol harus bersemangat menyadarkan para mahmud, bahwa salah menempatkan dandanan, keluarga taruhannya. Kelihatannya berlebihan, tetapi ini serius. Dandanan berpeluang merongrong ketahanan keluarga. Jika dandanan para mahmud diobral ke ranah publik, bisa-bisa kelar bangunan keluarga. Suami melirik dandanan perempuan lain, istrinya dilirik karena dandanannya oleh suami orang lain.

Ironisnya, berapa jam dalam sepekan mereka habiskan untuk berdandan, sementara tidak satu jam pun meluangkan waktu untuk mengkaji Islam. Sebagian mereka berpikir, ngaji itu hanya untuk ibu-ibu tua. Anak-anak yang masih balita menjadi alasan untuk tidak melangkahkah kaki ke forum-forum pengajian. Anehnya, anak tidak menjadi alasan untuk nongkrong-nongkrong cantik bersama teman-temannya.

Kita khawatir, anak-anak yang terbiasa melihat mamahnya berdandan, kelak juga hanya menjadi generasi yang piawai mendandani mukanya, dibanding mengisi otaknya dengan pemahaman Islam. Sebab, jika mamahnya tidak paham, tentu tidak akan mampu meluruskan pemikiran anaknya. Semoga ini tidak terjadi. Sebab jika demikian, kelak akan lahir generasi penerus yang tidak mengerti syariat Islam.

Maka, para umshol, mari kita doakan dan kita “dandani” para mahmud yang belum berkenalan dengan syariat Islam. Kita kenalkan bahwa Islam mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk soal dandan. Mari kita ajak dan kita rangkul agar mereka menyibukkan diri dengan “mendandani” pemahaman Islamnya. Supaya paham benar, di mana musti meletakkan dandanan yang benar. Karena, memperbaiki para muslimah, sama saja dengan memperbaiki generasi.

Tegakkan Peradaban Islam

Gaya hidup tabaruj yang melanda para mahmud, tak lepas dari diterapkannya ideologi sekuler-liberal saat ini. Peradaban ini membebaskan perempuan untuk mengekspresikan dirinya, termasuk mempertontonkan kecantikan di muka umum. Kebebasan ini dibayar dengan nestapa kaum perempuan. Dilecehkan, diperkosa dan diekploitasi habis-habisan.

Bagi ideologi Barat, penting untuk membebaskan perempuan dari syariat Islam. Barat membidik perempuan sebagai ibu, pelahir generasi dan tiang rumah tangga karena hancurnya perempuan, hancurlah keluarga dan hancurlah generasi.

Maka, sudah saatnya kaum perempuan mengambil peran dalam mengganti peradaban sekuler menjadi peradaban Islam. Dan itu sudah mulai tampak ditunjukkan dengan ghirah para umshol di aksi 212 dan peran-peran mereka lainnya dalam “mendandani” para mahmud agar sadar syariat Islam. Jangan sampai kelar hidup belum sempat bertaubat.

Oleh : Kholda Naajiyah

Sumber: Tabloid Media Ummat

About solimus

Check Also

Surat-surat Yang Biasa Dibaca Rasul Ketika Sholat

Solidaritasmuslim.com – Pernahkah terpikir kenapa ketika setiap kali rekaat pertama shalat shubuh imam shalat selalu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *