Home / Artikel Islami / Karakter Muslim Dalam Al-Qur’an dan Sunnah (Bag 2)

Karakter Muslim Dalam Al-Qur’an dan Sunnah (Bag 2)

Karakter Muslim? Seperti Apa?

Seseorang yang memiliki karakter muslim adalah sebaik-baik manusia di atas muka bumi ini, dikarenakan sifat dan karakter baiknya. Muslim ideal adalah yang mampu mengejawantahkan Al Quran dalam kehidupannya sehari-hari. Pada hakikatnya, seluruh isi al Qurân dan apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad -shollallohu ‘alaihi wa sallam- bertujuan mendidik manusia berkarakter baik dan mulia. Seperti yang dijelaskan oleh Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- sendiri dalam haditsnya:

« إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَقِ »

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia”. (HR. Baihaqi)

Akhlaq dan karakter baik yang muncul dari diri seseorang bukanlah semata-mata difahami dari sudut humanis saja. Namun akhlaq dan karakter yang muncul betul-betul menunjukkan keislaman dan keimanan. Dengan kata lain, akhlaq dan karakter yang muncul mencakup aspek hubungan kepada Allah Robb semesta alam dan kepada semua makhluq.

Bagi yang melihat seluruh syari’at Islam dengan jeli dan teliti maka akan didapatkan bahwa Islam adalah satu-satunya ajaran yang mengatur kehidupan seorang hamba untuk menjadi makhluq yang berakhlaq dan berkarater mulia. Dari mulai beradab kepada Allah hingga beradab dengan makhluq jin telah diatur dalam syari’at Islam.

Tentu saja karakteristik seorang muslim tidaklah muncul begitu saja, melainkan dengan upaya dan kesungguhan hati. Bagi seorang muslim, berakhlaq mulia dan menampakkan karakternya adalah sebuah ibadah. Tidak mengherankan, jika selevel Heraklius Sang Kaisar Romawi terkagum-kagum dengan kuatnya karakter Islam yang dimiliki oleh Abdullah bin Hudzafah al Sahmi salah seorang sahabat Nabi. Di saat ancaman kematian yang mengerikan dihadapkan kepada beliau oleh Kaisar Heraklius, ditawarkan kepadanya keselamatan dengan catatan mau pindah ke agama nashrani dan mau bergabung bersama Heraklius. Iming-iming fasilitas duniawi pun juga sudah menanti kalau beliau mau bergabung bersama tentara Romawi. Namun karena iman yang menghunjam di dada, Abdullah bin Hudzafah al Sahmi menolak tawaran itu semua. Bagi beliau mati tersiksa di atas keimanan jauh lebih baik dari pada hidup dalam kondisi murtad. Karena akhlaq dan karakter seorang muslim merupakan bagian ibadah yang dengannya akan dimintai pertanggungjawaban di sisi Allah ta’ala.

Akhlaq yang terpancar dari diri seorang muslim menjadi karakteristik yang tidak dimiliki oleh orang lain. Hanya orang beriman saja yang memiliki karakter hebat dan mulia seperti yang difirmankan oleh Allah ta’ala ketika menyifati orang-orang yang berkomitmen dengan Iman dan Islamnya.

﴿مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah bersikap keras terhadaporang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesame mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhoan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat. Dan sifat-sifat mereka dalam Injil yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya. Tanaman itu menyenangkan hati para penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang berimandan mengerjakan amal sholih di antara mereka ampunan dan pahala yang besar”. (QS. Al Fath: ayat 29)

Imam Ibnu Jarir al Thobari dalam tafsirnya menjelaskan bahwa orang-orang yang bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, berkasih sayang terhadap saudara-saudara seiman dan mengerjakan sholat menjadikan amalannya sebagai wasilah untuk mendapatkan keridhoan dan karunia Allah.[2]

Di antara point penting yang terkandung dalam ayat mulia tersebut adalah penegasan bahwa sifat-sifat kemuliaan yang Allah kehendaki bagi pribadi Nabi Muhammad beserta para sahabatnya adalah karakter yang tidak disukai oleh orang-orang kafir[3]. Dengan kata lain, karakter yang coba selalu dijaga oleh orang beriman akan senantiasa mengundang permusuhan dari orang-orang kafir. Inilah yang membuat kaum muslimin selalu berbeda dengan orang-orang kafir. Karena sejatinya nilai-nilai kebenaran dan kebaikan tidak akan pernah bisa disampaikan kecuali orang-orang yang mencintai keduanya. Hanya seorang muslim sejati yang mencintai kebenaran dan kebaikan yang datang dari Allah dan Rasul-Nya.

Jadi bisa ditarik kesimpulan bahwa karakter seorang muslim tidaklah sama dengan orang kafir. Karakter yang dimiliki oleh seorang muslim adalah karakter yang terdapat dalam Al Qurân dan Sunnah Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam-. Akhlaq dan karakter muslim menjadi pancaran iman yang tidak terpisahkan dalam koridor ibadah kepada Allah ta’ala. Wallohu a’lam.

Bisakah karakter diubah?

Mungkin ada di antara kita pernah menjumpai dalam berinteraksi antar sesama sebuah permakluman dari teman atau kerabat lainnya terkait watak dan karakter buruk yang dimiliki. “Maaf ya, memang karakter saya seperti ini, mohon dimaklumi” demikian salah satu contoh permakluman yang sering kita dapati. Ucapan buruk, mudah marah, tingkah laku kasar, tidak ada kepedulian dengan orang lain, bersikap cuek dan berbagai tingkah laku buruk lainnya sering kali dianggap sebagai karakter yang tidak bisa diubah. Lebih parah lagi, jika watak buruk tersebut sering kali disandarkan kepada Sang Kholiq Yang Maha Pencipta; “… Maaf ya, watak saya memang mudah marah, sudah dari sananya (sambal menunjuk jari telunjuknya ke langit)”. Subhanalloh, sebuah perilaku tidak beradab kepada Allah ta’ala.

Hari-hari ini banyak pula yang begitu mudah mempercayai teori psikologi dari orang-orang kafir barat yang menyatakan bahwa karakter dan watak tidak bisa berubah. Akibatnya mudah sekali bagi individu yang terdapat watak atau kepribadian buruk memvonis dirinya tidak bisa berubah. Sehingga dengan santainya minta permakluman dari orang lain.

Bagi orang yang kritis dan jeli, tentu saja anggapan bahwa karakter tidak bisa dirubah tidak selalu benar. Mengingat banyak fakta yang menunjukkan adanya perubahan karakter atau kepribadian yang sebelumnya buruk menjadi baik. Sebagai contoh adalah perubahan karakter dalam diri Umar bin Khattab –radhiyallohu ‘anhu-. Seperti yang disebutkan dalam banyak literature sejarah, bahwa umar bin Khattab sebelum masuk Islam adalah pribadi yang bengis dan kejam khususnya terhadap Islam dan kaum muslimin. Rasa kebencian dan permusuhannya terhadap Rosulullah Muhammad -shollallohu ‘alaihi wa sallam- menjadikan diriya berada dalam barisan terdepan dalam memerangi Islam dan kaum muslimin di kota Makkah saat itu.

Setelah beliau masuk Islam, perubahan mendasar terjadi pada karakter Umar bin Khattab -radhiyallohu ‘anhu-. Beliau adalah orang yang paling mencintai Allah dan Rasul-Nya. Beliau adalah orang yang paling menyayangi kaum muslimin. Orang yang paling zuhud terhadap dunia. Pernah suatu ketika beliau berjalan di pasar Madinah mengenakan baju jubbah yang terbuat dari wol kasar dan terdapat banyak tambalan jahitan sementara beliau saat itu telah menjadi pemimpin besar kaum muslimin.

Dikisahkan pula bahwa beliau adalah orang yang paling mudah menangis. Berkata Abdullah bin Isa: “Di wajah Umar bin Khattab terdapat dua garis hitam yang disebabkan seringnya beliau menangis”.[1]

Begitu pula yang terjadi pada diri seorang ulama besar seperti Fudhoil bin ‘Iyadh –rohimahulloh-. Dikisahkan bahwa beliau dahulunya seorang penyamun yang beroperasi di wilayah Abyurod dan Sarkhos. Orang yang sangat cinta dan tamak terhadap dunia. Lalu perubahan besar pun terjadi saat hidayah menyapa hatinya. Kemudian beliau menjadi orang paling zuhud terhadap dunia. Bahkan sisa umur yang dimilikinya didedikasikan untuk Islam.

Inilah dua profil mulia dari mutiara-mutiara keteladanan yang muncul dari tempaan pendidik

About solimus

Check Also

Surat-surat Yang Biasa Dibaca Rasul Ketika Sholat

Solidaritasmuslim.com – Pernahkah terpikir kenapa ketika setiap kali rekaat pertama shalat shubuh imam shalat selalu …