Thursday , October 19 2017
Home / Artikel Islami / Karakter Muslim Dalam Al-Qur’an dan Sunnah (bag 1)

Karakter Muslim Dalam Al-Qur’an dan Sunnah (bag 1)

Iman  dan Karakter Muslim

Berbicara akhlaq dan karakter muslim tentunya tidak bisa terlepas dari penghayatan dua kalimat syahadat. Karena keduanya menjadi poros motivasi seorang muslim untuk berprestasi di hadapan Allah Robb semesta alam. Dengan ungkapan lain, tidaklah muncul karakter seorang muslim hingga dirinya beriman dengan sebenar-benarnya.

Sebuah pertanyaan mendasar yang harus dijawab oleh seorang muslim, apa tanda keislaman anda? Pertanyaan selanjutnya adalah apa yang membedakan diri seorang muslim dengan orang kafir? Bisa dipastikan jawaban cepatnya adalah karena membaca dua kalimat syahadat. Memang tidak salah dengan jawaban ini. Namun yang harus diperhatikan oleh seorang muslim adalah penghayatan dan pengamalannya.

Antara iman dan akhlaq adalah dua hal yang tak terpisahkan. Kebaikan dan keburukan iman seseorang bisa terlihat dalam akhlaq dan karakter yang muncul dari dirinya. Rosulullah -shollallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

«أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا»

“Orang beriman yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaqnya”. (HR. Abu Dawud).

Kata khuluqon dalam bahasa Arab bermakna kondisi jiwa paling dalam yang darinya keluar perbuatan baik atau buruk tanpa perlu berfikir. Dengan ungkapan lain, khuluq adalah refleksi kejiwaan seseorang yang nampak dalam perilaku. Khuluq merupakan cerminan watak dan karakter seseorang.

Imam al Baghowi –rohimahullah– menjadikan hadits ini sebagai hujjah bahwa iman terdiri dari perkataan, perbuatan dan aqidah. Iman bisa bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan[2]. Dari sini terlihat esensi karakter dan akhlaq yang menjadi buah dari iman.

Karakter seorang muslim merupakan perpaduan serasi antara amalan batin dan lahirnya. Tidaklah muncul karakter baik melainkan dari hati yang baik pula. Begitu pula sebaliknya, tidaklah muncul karakter buruk melainkan dari hati yang buruk. Amalan dzohir adalah cerminan hati. Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

ألاَ وَإنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَت صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، ألاَ وَهِيَ القَلْبُ

“Sesungguhnya dalam setiap jasad ada segumpal daging, apabila dia baik maka baiklah seluruh tubuhnya dan apabila dia buruk maka buruklah seluruh jasadnya, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati”. (Muttafaq ‘alaih)

Berpijak dari keimanan inilah seorang muslim memahami bahwa tidak ada yang bisa menjadikan karakter diri dan masyarakatnya baik melainkan dengan pengamalan wahyu (Al Qurân dan Sunnah Nabi). Sudah sewajibnya seorang muslim berkarakter seperti yang disebutkan dalam Al Quran dan apa yang dituntunkan oleh Nabi Muhammad -shollallohu ‘alaihi wa sallam-.

Perintah untuk menjadi muslim berkarakter yang mencerminkan keimanan dan keislamannya telah banyak disebutkan dalam Al Qurân. Di antara cerminan karakter seorang muslim seperti yang disebutkan dalam surat al Hujurot ayat 15:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

“Sesungguhnya orang-orang beriman adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang jujur (imannya)”. (QS. Al Hujurot: 15)

Kesempurnaan perintah berkarakter muslim ini diiringi juga dengan dihadirkannya sosok panutan dan teladan tentang bagaimana seorang hamba bisa menampilkan karakternya sebagai mukmin dan muslim sejati. Dia adalah Nabi Muhammad -shollallohu ‘alaihi wa sallam-, profil seorang hamba yang dipuji karakter keperibadiannya dalam Al Quran. Sebagaimana firman-Nya:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik bagi orang yang berharap bertemu dengan Allah dan hari Akhir serta banyak mengingat Allah”. (QS. Al Ahzab: ayat 21)

Begitu juga dalam firman Alla ta’ala:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) berada di atas akhlaq yang agung”. (QS. Al Qolam: ayat 4)

Ibunda ‘Aisyah –radhiyallohu ‘anha- pernah ditanya tentang akhlaq dan karakter Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- maka beliau menjawab; “akhlaqnya Nabi adalah Al Qurân”.[3]

Beberapa waktu terakhir ini, sering kali kita mendapatkan atau mendengarkan ungkapan yang rasanya ingin mengesankan bijak dan lebih beradab di tengah masyarakat. Seperti ungkapan seseorang yang mengatakan ; “saya muslim demokratis”. Ada pula yang mengatakan; “saya muslim liberalis”. Sementara di lain kesempatan, ada juga yang mendeklarasikan dirinya sebagai “punk muslim”.

Bagi penulis, ungkapan-unkapan seperti yang disebutkan di atas sangatlah janggal dan terkesan kontradiktif. Bagaimana tidak kontradiktif, ketika sifat muslim disandingkan dengan kata yang bertolakbelakang dan bahkan sangat bertentangan. Misalnya dalam ungkapan “muslim demokratis”, dua kata yang disandingkan sangatlah kontras, muslim sebagai sebuah istilah yang menunjukkan pribadi beragama Islam dan siap diatur dengan syariat Islam yang bersumber dari wahyu Allah. Sementara demokratis adalah sifat yang dilandasi oleh nilai-nilai demokrasi berdasarkan atas kedaulatan rakyat dengan semboyan “dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat”.

Begitu pula dengan ungkapan “muslim liberalis”. Kata liberalis yang disandingkan sebagai sifat muslim adalah kontradiktif. Liberalis adalah istilah bagi peganut faham liberalisme. Sebuah faham dan pandangan filsafat yang melandaskan segala sesuatu di atas kebebasan dan persamaan hak. Tentu saja faham liberal tidak identik dengan Islam. Karena Islam adalah aturan syariat Ilahi yang mengikat bagi para pemeluknya. Ketundukan dan ketaatan penuh (loyalitas) menjadi penilaian mendasar dalam setiap aktivitas seorang muslim, sekaligus menjadi pembeda dengan orang kafir. Pertanyaan mendasarnya adalah adakah titik temu di antara kedua istilah tersebut ?! kalaupun ada, terkesan dipaksakan. Karena keduanya tidak akan pernah bertemu.

Sementara itu, muncul juga sebuah fenomena yang memprihatinkan dewasa ini yaitu penyalahgunaan labelisasi Islam atau syariat pada suatu komunitas atau trend tertentu yang hakikatnya tidak selaras dengan nilai-nilai Islam. Seperti munculnya penamaan suatu komunitas “punk muslim” misalnya. Dilihat dari semangat dan niatannya mungkin banyak pihak yang memberikan apresiasi. Namun ada sebuah kejanggalan yang patut untuk dicermati. Kejanggalan tersebut terletak pada madzhar (=penampilan) yang nampak pada diri setiap anggota komunitas tersebut. Mereka mengacu kepada penggagas Punk yang kafir di negeri barat. Mulai dari gaya pakaian hingga tutur katanya mengekor pada kultur penggagasnya. Dalam salah satu petikan wawancara di sebuah media, mereka menyebutkan bahwa yang membedakan antara mereka dengan Punkers lainnya adalah semangat ideology Islam[1].

Di sisi inilah, perlu adanya taujih yang meluruskan semangat mereka. Tentunya semangat berideologi Islam bukan hanya sekedar semangat dalam hati namun juga nampak dalam sisi lahiriyahnya. Tidak ada yang salah dalam mendakwahkan Islam ke dalam komunitas-komunitas tertentu. Namun yang menjadi masalah ketika label Islam begitu mudahnya disematkan kepada sesuatu yang akar permasalahannya berbeda dengan Islam. Dikhawatirkan akan muncul di kemudian hari model Islam baru yang tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad -shollallohu ‘alaihi wa sallam-. Inilah yang menjadi Kondisi terburuk seorang muslim manakala buta dengan panutan dan keteladanan Nabi Muhammad -shollallohu ‘alaihi wa sallam- namun terbelalak kagum dengan polah tingkah orang kafir. Begitu bahayanya masalah ini, hingga Rosulullah -shollallohu ‘alaihi wa sallam- melarang kita untuk meniru dan mengikuti gaya hidup orang kafir:

« مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ »

“Barang siapa menyerupai suatu kaum maka dirinya termasuk bagian dari mereka”. (HR. Abu Dawud).

Kondisi sebagian kaum muslimin yang mengikuti pola dan gaya hidup orang –orang kafir seperti pada zaman saat ini menunjukkan adanya krisis karakter sebagai muslim pada diri mereka. Ditambah lagi, kejahilan mereka terhadap profil figure yang baik. Sementara dalam Al Qurân bertaburan suri tauladan yang baik, terlebih khusus lagi adalah Nabi Muhammad -shollallohu ‘alaihi wa sallam- .

Merebaknya fenomena sebagian kaum muslimin mengikuti gaya hidup orang-orang kafir telah diprediksikan oleh Rosulullah -shollallohu ‘alaihi wa sallam- dalam sebuah haditsnya:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ، وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ»، قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ: اليَهُودَ، وَالنَّصَارَى قَالَ: «فَمَنْ»

Dari Abu Sa’id –semoga Allah meridhoinya-, bahwa Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- telah bersabda: “Sungguh kalian nanti akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga kalaupun mereka memasuki lubang biawak pastilah kalian mengikutinya”. Kami berkata: “Wahai Rosulullah, apakah yang dimaksud adalah yahudi dan nasrani? Beliau bersabda: “siapa lagi”. (HR. Bukhori).

Mencermati fenomena hari ini dari hilangnya sebagian karakter kaum muslimin menjadi pertanda jauhnya mereka dari penduan wahyu Ilahi (Al Qurân dan al Sunnah). Ditambah lagi, terendusnya upaya makar dari pihak luar (kaum kafirin) yang mencoba membajak ajaran Islam agar kaum muslimin bisa diarahkan semau mereka demi kepentingan dan keuntungan kaum kafirin. Munculnya istilah-istilah Islam moderat, islam liberal, islam fundamentalis dan yang lainnya tak lebih dari upaya pengaburan karakter seorang muslim.

Bersambung…,

CATATAN KAKI

[1] http://www.fimadani.com/punk-muslim-komunitas-anak-jalanan-yang-berideologi-islam/

[2] Al Husain bin Mas’ud al Baghowi, Syarh al Sunnah (Beirut: al Maktab al Islami, cetakan III, tahun 1403 H) juz 1 hal 39

[3] Ahmad bin al Husain al Baihaqi, Syu’ab al Iman (Riyadh: Maktabah al Rusyd, cetakan I, tahun 1423 H) juz 3 hal 23

Oleh Abu Harits, Lc

sumber : madina.or.id

About solimus

Check Also

Surat-surat Yang Biasa Dibaca Rasul Ketika Sholat

Solidaritasmuslim.com – Pernahkah terpikir kenapa ketika setiap kali rekaat pertama shalat shubuh imam shalat selalu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *