Home / Artikel Islami / Jangan Cemas Akan Rezeki

Jangan Cemas Akan Rezeki

Hari ini banyak orangtua hilang tumpuan. Rasanya itu bukan hanya gurauan, langgar-langgar yang dulu riuh ramai kini tak lagi terdengar suaranya. Anak-anak lancar betul baca alpabhet, tapi gagu huruf hijaiyah, anak-anak hafal betul lagu dewasa, tapi tak tau doa-doa, taman-taman al-quran ditinggalkan karena ikuti kecemasan orangtua, les matematika, les bahasa inggris, les piano, ramai walau mahal.. agar anaknya juara, agar masa depan cerah, bisa kerja di perusahaan asing, amat malang si kecil memikul ambisi yang teramat berat.

Itu tanda lemahnya tumpuan banyak orangtua kepada tuhannya, mereka takut akan nasib anak-anaknya di masa depan, padahal Allah lah yang menjamin rezeki makhluk ciptaan, baik anak, orangtua, baik hewan-hewan, buasnya, jinaknya , dan tumbuhan yang kita lihat dalam diamnya, Allah lah yang menjamin.

Dia berfirman: “Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (Hud:6).

Wahb bin Munabbih berkata:
“Apa manusia tidak tahu bahwa Yang menjamin rezeki mereka di tiga masa dari hidupnya, di masa mereka tidak punya pekerjaan tidak pula jalan keluar, akan mejamin rezekinya di masa depan?

Masa pertama adalah saat ia berada di dalam rahim. Allah ciptakan ia di sana, lalu diberi rezeki bukan dari hasil usahanya, masih di dalam rahim, tidak merasa panas atau dingin, tidak pula ada beban. Kemudian Allah ingin agar ia lahir ke dunia. Di masa kedua ini Allah memberinya rezeki lewat perantara sang ibu, mencukupinya tanpa harus bersusah payah. Dia menjaga dengan adanya air susu.

Kemudian mengantarnya menuju masa ketiga, dimana jaminan bagi rezekinya ada melalui perantara kedua orangtua. Allah menjadikan kasih sayang melekat pada keduanya sehingga mereka mendahulukan kebutuhan sang anak dari hasil kerjanya, memperhatikan kebutuhannya, tanpa ia harus ikut membantu, tanpa harus ikut bersusah payah, sampai akhirnya tumbuh menjadi manusia yang berakal, lalu di kemudian hari Allah berikan ia daya upaya dan juga kesempatan.

Sesungguhnya tidak ada mencukupinya di masa depan masa keempat ini melainkan Dzat yang telah memberinya kecukupan di tiga masa sebelumnya.

Maka tidak ada alasan bagi manusia, kecuali mengakui semua ini terjadi dengan rahmat dan kasih sayang Allah, Dia lah Dzat yang menciptakan manusia. Manusia itu memang sering ragu, angan-angan dan pikirannya lalai dari memikirkan Allah dan kekusaan-Nya. Andai ia bertafakur sampai paham, ia akan tahu bahwa diantara tanda-tanda keesaan Allah: adanya makhluk dan jaminan rezeki bagi makhluk ciptaanNya.” Hilyatul Awliya (25/4).

Dengan keyakinan ini seorang muslim akan hidup dengn penuh kebahagiaan dan optimisme. Mereka akan menjadi pribadi yang lapang dada dan menjadikan hatinya penuh dengan rasa syukur.

Orang yang tidak yakin dengan ketetapan rezekinya akan hidup dengan penuh kecemasan jauh dari bahagia, bahkan ia berani melakukan apa saja demi harta. Tidakkah kita berpikir bahwa hewan di darat akan mati bila mencari rezeki di dalam laut, begitu pula ikan di laut akan mati bila mencari rezeki di darat karena tidak adanya qanaah? Begitulah keadaan orang yang tidak bersyukur dengan apa yang menjadi ketetapannya, akan binasa bila tidak qanaah dan merasa cukup dengan apa yang ada di hadapannya.

Fahmi Aziz
Madinah, 17 Shafar 1437 H.

About solimus

Check Also

Surat-surat Yang Biasa Dibaca Rasul Ketika Sholat

Solidaritasmuslim.com – Pernahkah terpikir kenapa ketika setiap kali rekaat pertama shalat shubuh imam shalat selalu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *