Wednesday , November 22 2017
Home / Artikel Islami / Godaan Setan kepada Para Pembaca Al-Quran

Godaan Setan kepada Para Pembaca Al-Quran

Godaan Setan kepada Para Pembaca Al-Quran
Godaan Setan kepada Para Pembaca Al-Quran

Solidaritasmuslim.com – Setan akan lebih bersemangat untuk menggoda manusia, tatkala ia berniat untuk melaksanakan kebaikan atau sedang dalam perbuatan baik. Pada saat itu, setan meningkatkan godaannya untuk memutuskan kita dari rantai kebaikan.

Selama perbuatan itu lebih bermanfaat bagi seseorang dan lebih dicintai Allah, maka godaan setan kepadanya pun akan lebih besar. Rasulullah SAW bersabda, “Setan memerhatikan bani Adam dengan berbagai cara. Ia memerhatikannya dengan jalan Islam, ia berkata, ‘Bagaimana engkau masuk Islam dan membuang agamamu dan agama bapak-bapakmu?” Maka Anak Adam tersebut menolaknya dan masuk Islam.

Kemudian ia memerhatikannya dengan cara hijrah, ia berkata, “Bagaimana kamu mau berhijrah dan meninggalkan bumi dan langit (tanah air) mu?” Maka ia menolaknya dan berhijrah.

Kemudian ia memerhatikannya dengan cara jihad, ia berkata, “Bagaimana engkau mau bertempur dan terbunuh, menikahi perempuan (yang ditawan), dan memperoleh harta (rampasan perang)?” Maka ia menolaknya dan berjihad. Setan selalu mengintai manusia di setiap jalan kebaikan. (lihat: Ighatsah Al-Lahfan karya Ibnul Qayyim al-Jauziyah)

Agar Tidak Diganggu Saat Membaca Al-Qur’an

Setan terus mengintai siapapun yang beribadah, terlebih ketika membaca Al-Qur’an. Karena itu, Allah memerintahkan agar memerangi setan yang selalu menghadang jalan kita. Ada banyak cara untuk melawan godaan tersebut, pertama-tama dengan jalan berlindung kepada Allah darinya, kemudian ia berjalan dengan hati-hati, seperti seorang musafir jika dihadang oleh penyamun, maka ia mendorongnya dan cepat-cepat berjalan.

Dalam hal ini, membaca Al-Qur’an dengan hati yang hadir dan akal yang terjaga adalah senjata yang terhebat. Allah ta’ala berfirman;

Maka Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga, yang dengan itu mereka dapat mendengar?Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (Al-Hajj: 46)

Oleh karena itu, hal yang sangat diinginkan setan ketika seseorang sedang membaca Kitabullah adalah mengacaukan bacaan si hamba, sampai-sampai bacaan para Nabi pun tak luput dari sabotase setan.

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلا نَبِيٍّ إِلا إِذَا تَمَنَّى أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ فَيَنْسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللَّهُ آيَاتِهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ * لِيَجْعَلَ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ فِتْنَةً لِلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَفِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ

Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh setan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh setan itu sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat.” (Al-Hajj: 52-53)

Ibnu Al-Qayyim berkata, “Para salaf telah bersepakat bahwa kandungan ayat: 52 di atas adalah: Jika (seseorang) membaca—dalam ayat tersebut memakai kata tamanna— Kitabullah maka setan akan mengacaukan tilawahnya. Arti kata tamanna dengan talaa (membaca). ini sesuai dengan untaian syair seorang penyair (Hassan bin Tsabit) tentang Utsman bin Affan, ‘Ia membaca Kitabullah pada awal malam dan akhir malam,’

Jika hal ini dilakukan setan kepada para Nabi SAW, bagaimana dengan orang lain? Oleh karena itu, setan terkadang sengaja menyalahkan bacaan, mencampur aduk, mengacaukan lidah atau pikiran dan hati seseorang.

Tetapi, jika seseorang menghadirkan hati dan kesadarannya dalam membaca Al-Qur’an, ia akan mampu konsentrasi dengannya.

Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syanqithi dalam tafsir Adhwâ’ Al-Bayân menafsirkan ayat ke 53 dengan berkata, “Makna kata ‘tamanna’ dalam ayat di atas ada dua sisi penafsiran ulama, yaitu:

Pertama: Artinya adalah qara’a wa talâ (membaca). Contohnya, bait syair Hasan tentang Utsman bin Affan di atas. Dalam Shahih Bukhari diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Jika (seseorang) berbicara maka setan akan mengganggu pembicaraannya.”

Kedua: Pengertian tamanna  dalam ayat tersebut dari al-muna (harapan). Maksudnya, harapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan keislaman umatnya dan ketaatan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya.

Setan mengganggu harapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti itu, berarti ia melempar bisikan dan syubhatnya untuk menghalangi apa yang diharapkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Harapannya, semakin banyak manusia yang terjerumus dalam rayuannya maka semakin banyak pula temannya kelak di neraka.

Penulis : Fakhruddin [kiblat.net]

About solimus

Check Also

Surat-surat Yang Biasa Dibaca Rasul Ketika Sholat

Solidaritasmuslim.com – Pernahkah terpikir kenapa ketika setiap kali rekaat pertama shalat shubuh imam shalat selalu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *