Home / Artikel Islami / Beruntunglah Bagi Wajah-Wajah yang Tak Dikenal

Beruntunglah Bagi Wajah-Wajah yang Tak Dikenal

Beruntunglah Bagi Wajah-Wajah yang Tak Dikenal
Beruntunglah Bagi Wajah-Wajah yang Tak Dikenal

تِلْكَ الدَّارُ الآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الأرْضِ وَلا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Qashas: 83)

Allah menjadikan negeri akhirat untuk orang-orang yang tidak mengharapkan dunia. Ketika menafsirkan ayat di atas, Qadhi Fudhail bin Iyadh berkata, “Di sini, berantakanlah angan-angan.” Maksudnya angan-angan tentang dunia yang manusia mengejar di belakang ekornya dan mencengkeram erat-erat apa yang ada di dalamnya. Seandainya seluruh isi dunia diberikan kepada seseorang dan diletakkan di atas telapak tangannya, maka seberapa nilainya?

Allah berfirman di dalam Al-Qur’an

فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلا قَلِيلٌ

“Tiadalah kenikmatan dalam kehidupan dunia (dibandingkan dengan kenikmatan hidup) di akhirat melainkan hanyalah sedikit.” (At-Taubah: 38)

Rasulullah  telah bersabda

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

 “Shalat dua rakaat sebelum shalat Subuh lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR.Muslim no 725)

Jadi, alangkah rendah kenikmatan dan kemewahan yang dijanjikan dunia ini. Padahal banyak manusia yang saling membunuh dan orang-orang yang tamak saling menggilas karenanya. Berapa banyak manusia yang menjumpai ajalnya hanya untuk meraih dunia. Sudah tak terhitung lagi, berapa banyak dunia membunuh para peminangnya dan meracuni para pecintanya. Ia seperti perempuan cantik yang bersolek untuk para peminangnya, namun tak seorang pun yang menikahinya karena ia pasti membunuhnya.

Wajah-Wajah Mereka Tak Dikenal

Inilah dunia dan Allah menjanjikan, “Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) adalah bagi orangorang yang bertakwa).”

Suatu ketika Umar bin Khatthab a mengunjungi Mu’adz bin Jabal. Waktu itu Mu’adz sedang menangis di pojok masjid sambil bersandar pada dinding rumah Rasulullah. Umar pun bertanya, “Mengapa engkau menangis wahai Abu Abdurrahman? Apakah karena engkau kehilangan saudaramu si Fulan?”

Mu’adz menjawab, “Tidak, saya menangis karena hadits yang pernah saya dengar dari orang yang saya cintai, Rasulullah,

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik, bertakwa dan tidak menonjolkan diri. Jika mereka tidak hadir, tidak ada yang mencari. Apabila mereka hadir, tidak ada yang mengenali. Hati mereka adalah lentera-lentera petunjuk yang keluar dari setiap kegelapan.” (Hadits hasan. HR Al-Mundziri dalam Kitab At-Targhib wa At-Tarhib)

Mereka adalah orang-orang yang tidak ingin menonjolkan diri, takwa, saleh dan terasing di dunia ini, sebagaimana yang disabdakan Nabi

“Sesungguhnya Din ini bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali tampak asing seperti saat awal mulanya. Maka Thuba itu untuk orang-orang asing.” (HR Muslim dalam Shahihnya. Adapun tambahan lafal terdapat pada riwayat selain Muslim, Hadits-hadits tersebut shahih dijadikan hujjah oleh Ibnu Hazm, sebagaimana disebutkan dalam kitab AlAhkam hal: 709)

Pengertian Thuba dalam hadits di atas adalah Jannah atau pohon di dalam Jannah.

Dalam banyak riwayat, disebutkan tambahan lafal:

Beliau ditanya, “Siapakah orang-orang yang asing itu wahai Rasulullah ?” Beliau menjawab, “Yang terasing dari kabilah-kabilah karena dijauhkan dari keluarga dan sanak kerabat mereka.”

Mereka hidup di satu lembah, sementara orang-orang hidup di lembah yang lain. Mereka hidup untuk menegakkan Din. Hidup dengan segenap pemikirannya untuk membela Sayyidul Mursalin dan untuk meninggikan syariat Islam. Sementara, orang-orang di sekitarnya memusuhi dan menuduh mereka sebagai orang-orang gila.

Berbagai macam julukan buruk dibuat untuk disematkan kepada orang yang hendak menyebarkan Din Islam, atau hidup dalam keadaan terasing dari lingkungannya, sebagaimana yang telah digambarkan oleh Sayyidul Mursalin, Muhammad SAW.

Beruntunglah orang-orang yang asing dari kaumnya, yang menyelisihi mereka dalam hal pemikiran dan pendapatnya. Mereka membatasi arah tujuannya dan menempuh jalannya sendiri. Tak seorang pun memuji atau menaruh perhatian kepada jalan kehidupannya itu. Meskipun demikian, mereka tidak peduli apakah orang-orang menuduh gila atau mencap mereka sombong, atau menjuluki mereka ekstrem atau fanatik.

Orang-orang menuduh mereka sebagai gila, telah kehilangan akal, atau telah kehilangan kontrol sehingga tidak mampu mengendalikan perasaan dan dirinya. Mereka berada di suatu lembah, sedang manusia berada di lembah yang lain. Mereka tidak menggubris pandangan orang lain, pandangan orang-orang yang pandir, anak-anak jalanan yang dungu, ataupun ahli dunia yang menggonggong di belakang mereka.

Dunia hanyalah seperti bangkai busuk

Ditunggui kawanan anjing yang hendak menyeretnya

Jika kau jauhi, selamatlah dirimu dari ahlinya

Jika kamu menariknya, akan diserang anjing-anjingnya

Penulis : Dhani El_Ashim

Diinisiasi dari Tarbiyah Jihadiyah jilid ke-8 karya syaikh Abdullah Azzam rahimahullah.

About solimus

Check Also

Surat-surat Yang Biasa Dibaca Rasul Ketika Sholat

Solidaritasmuslim.com – Pernahkah terpikir kenapa ketika setiap kali rekaat pertama shalat shubuh imam shalat selalu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *