Sunday , September 24 2017
Home / Artikel Islami / Berjiwa Tawakal

Berjiwa Tawakal

Berjiwa Tawakal

Oleh: Iqbal Anggia Yusuf

Mahasiswa STAI Tasikmalaya

SEMUA manusia pasti memiliki cita-cita. Dengan beragam usahanya manusia bekerja keras menggapai apa yang dicita-citakannya itu. Namun, tidak sedikit dalam usaha menggapainya manusia melupakan Allah. Tidak menyertakan-Nya sebagai sumber kekuatan. Kekuatan utama yang menjadikan hati merasa yakin, bisa, dan mampu menggapai apa yang dicita-citakannya. Dialah Allah Tuhan Yang Maha Penolong. Maka, sangatlah tidak pantas manusia berlaku sombong. Karenanya, sertakanlah Dia selalu, dan jangan biarkan hati kita kosong dari-Nya.

Dalam Islam, manusia diajarkan untuk berjiwa tawakal. Mengajarkan bahwa manusia harus menyertakan jiwa tawakal dalam proses pencapaian cita-cita. Bertawakal berarti memasrahkan diri kepada Tuhan setelah berusaha dan bekerja keras melalui prinsip-prinsip tawakal yang benar. Jika setiap aktivitas, kreativitas, dan pekerjaan manusia melalui atau menjalankan prinsip-prinsip tawakal yang benar, maka ia telah berjiwa tawakal. Dengan demikian manusia tidak akan merasa kecewa disaat gagal. Begitupun tidak akan berlaku sombong apabila berhasil. Lalu, bagaimanakah cara yang benar agar kita berjiwa tawakal?

Pertama, adalah bermujahadah. Mujahadah artinya sungguh-sungguh. Yakni bahwa Tuhan menyuruh manusia agar bersungguh-sungguh dalam melakukan pekerjaannya. Tidak bekerja asal-asalan dan tidak banyak beralasan. Jika kita adalah mahasiswa, belajarlah dengan sungguh-sungguh, dan selesaikan tugas dengan tepat waktu. Jika kita adalah pedagang, berikanlah pelayanan dan produk yang terbaik agar pelanggan merasa puas dengan produk yang kita jual. Jika kita adalah karyawan, selesaikanlah pekerjaan sesuai target agar pihak perusahaan menilai kerja kita baik. Demikian seterusnya. Maka, “Apabila kamu telah selesai dari suatu pekerjaan, maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh pekerjaan yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Asy-Syarh: 7-8).

Kedua, adalah berdoa. Dalam Islam, berdoa memiliki kedudukan yang Agung. Doa merupakan salah satu ibadah yang paling dicintai Tuhan, dan merupakan bentuk permohonan pertolongan kepada-Nya. Jika kita mengingat-Nya, berdoa memohon pertolongan kepada-Nya, Dia pun akan menolong kita, dan jika sebaliknya, Dia pun akan melupakan kita. Maka,“Berdoalah kepada-Ku (yakni kepada Allah), niscaya akan Kuperkenankan bagimu (doamu).” (QS. Al-Ghafir: 60).

Ketiga, adalah bersyukur. Bersyukur berarti perasaan, lisan, dan perbuatan terima kasih manusia kepada Tuhannya. Memanfaatkan dan mengendalikan seluruh anggota tubuh dengan sungguh-sungguh, untuk menggapai apa yang dilakukan dan apa yang dicita-ciatakannya. Jika mujahadah dan doa menyertai setiap aktivitas dan pekerjaan kita, Insya Allah kesuksesan yang  diraih akan mengantarkan kita pada rasa syukur. Jika prinsip ini dilupakan, tidak sedikit dari manusia menjadi angkuh. Bukankah, “…Jika kamu bersyukur, pasti akan Kami tambah nikmat kepadamu, dan jika kamu ingkar (angkuh) terhadap nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku amat pedih.”(QS. Ibrahim: 7)

Dan terakhir keempat, adalah bersabar. Sabar berarti tahan uji terhadap berbagai tantangan maupun ujian. Bukan bersabar namanya jika kita tidak tahan terhadap tantangan dan ujian yang sedang dihadapi.  Awalnya sabar memang terasa pahit, akan tetapi akhirnya manis. Dan jika setelah berusaha hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, sabarlah solusinya. Bersabar bukanlah diam dan bersedih meratapi kegagalan, tetapi sabar adalah mengevaluasi diri dan berusaha kembali agar kita tidak lagi gagal. Maka, “…Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap siaga (mawas diri)…” (QS. Ali-Imran: 200).

Segala puji bagi Allah Tuhan Yang Maha Tunggal. Pemberi solusi agar manusia tidak gagal dan menyesal. Empat prinsip di atas adalah beberapa cara agar kita berjiwa tawakal. Tawakal bukan hanya pasrah dan menyerahkan diri pada Tuhan tanpa usaha yang sungguh-sungguh. Tetapi, bertawakal yang benar adalah harus dibarengi dengan usaha yang sungguh-sungguh (mujahadah), berdoa, bersyukur, dan bersabar kepada-Nya. Dengan demikian jiwa kita akan berjiwa tawakal, bukan jiwa yang berjiwa bebal. Wallahu a’lamu. []

About solimus

Check Also

Perkampungan Yang Dikuasai Syetan

Solidaritasmuslim.com – Shalat jamaah adalah salah satu amalan harian rutin yang sering dijumpai masyarakat pada …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *